Curhat ahh!
Alangkah beruntungnya anak saya yang di anugrahi oleh Tuhan ASI yang berlimpah dari Ibunya.
Bahkan terkadang sebelum memberikan asupan asi pada anak saya, istri saya harus membuang sedikit ASI nya agar tidak menggangu si anak ketika meminumnya.
Terkadang saya berpikir bagaimana dengan ibu2 lainnya yang kurang beruntung,
Saya yakin kesadaran akan pemberian ASI sudah cukup tinggi di Indonesia, bukan salah ibu yang tidak mau memberikan ASI untuk si bayi, tapi banyaknya faktor2 lain, kurangnya pengetahuan tentang pemberian ASI, keadaan mental yang tidak stabil setelah melahirkan, dan masih banyak2 faktor lainnya yang membuat ibu bisa saja sulit menghasilkan ASI berlimpah.
Tugas kita ketika mengetahui rekan kita kekurangan ASI bukan dengan cara mencela, mengurui dan menghakimi tapi kita harus mendukung , memberikan tindakan dan menggalang solidaritas sesama.
Bahkan sempat terlintas di pikiran saya apakah Tuhan itu tidak adil? Karena saya punya kepercayaan, pemikiran seperti ini cepat2 saya hilangkan dalam benak saya.
Akhirnya saya sampai pada suatu kesimpulan, melalui ASI setiap orang di ingatkan kembali oleh Sang Pencipta akan nilai2 kemanusiaan, dan ciri2 manusia yang pada dasarnya adalah Mahluk sosial.
Sama seperti darah pada manusia, ASI ini dapat di donorkan, dan seperti darah juga, kekurangan ASI dapat menimpa siapapun.
Namun kebiasaan donor ASI ini belum membudaya dalam masyarakat kita, termasuk pada saya dan istri.
Mendonorkan ASI pada saat ini tidaklah semudah seperti mendonorkan Darah , seperti yang kita tahu Donor darah sudah mempunyai Organisasi yang cukup baik seperti PMI.
Mungkin suatu saat pemerintah akan tergerak untuk serius perihal donor ASI ini, karena dari ASI lah kita bisa mendapatkan penerus2 bangsa yang berkualitas.